Berbeda dari kunjungan formal pada umumnya, Djamari Chaniago memilih berdialog langsung dengan para siswa dan orang tua. Ia ingin memastikan program pendidikan berasrama tersebut benar-benar memberi manfaat bagi keluarga yang selama ini kesulitan mengakses pendidikan berkualitas.
“Kami datang ke sini untuk melihat bagaimana ibu-ibu menerima ketika anaknya bersekolah di sini. Ternyata banyak perubahan yang dirasakan, terutama dari sisi disiplin dan pendidikan agama,” ujar Djamari.
Ia mengaku terkesan setelah mendengar pengakuan sejumlah orang tua yang menyebut anak-anak mereka kini lebih disiplin, rajin beribadah, dan memiliki cita-cita yang lebih besar dibanding sebelumnya.
Menurutnya, Sekolah Rakyat bukan sekadar menyediakan pendidikan gratis, tetapi juga membangun karakter, kemandirian, dan kepercayaan diri anak-anak dari keluarga prasejahtera.
“Kalau anak ingin maju, orang tua juga harus kuat melepas mereka belajar. Jangan takut bermimpi besar. Tadi ada yang ingin menjadi dokter, bahkan ada yang bercita-cita pergi ke luar angkasa,” katanya.
Salah seorang siswa, Fatimah, mengaku keberadaan Sekolah Rakyat menjadi kesempatan yang mengubah masa depannya. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, ia menyadari keterbatasan ekonomi keluarganya.
“Karena mama saya tidak bisa menyekolahkan saya di tempat lain. Tapi karena ada sekolah ini, saya bisa bersekolah dengan fasilitas yang dibiayai. Saya ingin menjadi dokter dan membanggakan orang tua,” ungkapnya.
Kesaksian serupa disampaikan orang tua siswa, Andi Azril. Ia mengaku program tersebut sangat membantu keluarga yang kesulitan membiayai pendidikan anak.
“Kalau sekolah umum biayanya besar. Sekolah Rakyat ini sangat membantu. Anak saya yang dulu bandel sekarang berubah menjadi lebih baik karena didampingi guru dan wali asrama,” katanya.
Sementara itu, Kepala SRMP 25 Kendari, Ferdinand Boonde, melaporkan perkembangan signifikan yang dialami para siswa selama hampir satu tahun proses pembelajaran berlangsung.
Dari 49 siswa yang saat ini terdaftar, beberapa di antaranya sebelumnya mengalami kesulitan membaca dan berhitung. Namun melalui pendampingan intensif, kemampuan akademik mereka terus meningkat.
Tak hanya itu, siswa juga mulai menorehkan prestasi di bidang olahraga. Beberapa peserta didik berhasil meraih medali dalam kejuaraan silat dan taekwondo meski baru beberapa bulan menjalani latihan.
“Kami semakin yakin program Sekolah Rakyat merupakan langkah tepat untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan,” ujar Ferdinand.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota Kendari Siska Karina Imran turut mendampingi rombongan meninjau fasilitas pendidikan dan asrama siswa. Pemerintah Kota Kendari juga telah menyiapkan lahan pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat yang ditargetkan mampu menampung hingga 270 siswa untuk jenjang SD, SMP, dan SMA pada tahun ajaran mendatang.
Kunjungan ditutup dengan penyerahan bantuan berupa kulkas, dispenser, dan peralatan olahraga dari Menko Polkam kepada pihak sekolah. Gubernur Sulawesi Tenggara juga menyerahkan bantuan beasiswa kepada para siswa sebagai bentuk dukungan terhadap keberlanjutan pendidikan mereka.















































